Muraqabah

يَعْلَمُ خَآئِنَةَ ٱلْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِى ٱلصُّدُورُ

وَٱللَّهُ يَقْضِى بِٱلْحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَقْضُونَ بِشَىْءٍ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati.

Dan Allah menghukum dengan keadilan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tiada dapat menghukum dengan sesuatu apapun. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

QS. Al-Ghafir : 19-20

Banyak ayat yang menjelaskan bahwa Allah mengetahui segala sesuatu, melihat, mendengar, mengawasi yang lahir maupun batin. Di dalam hadits disebutkan bahwa Jibril bertanya kepada Rasulullah, tentang ihsan. Maka beliau menjawab “Engkau menyembah Allah seakan-akan melihat Nya. Jika engkau tidak bisa melihat Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.”

Muraqabah artinya pengetahuan hamba secara terus-menerus dan keyakinannya bahwa Allah mengetahui lahir dan batinnya. Muraqabah ini merupakan hasil dari pengetahuannya bahwa Allah mengawasinya, melihatnya, mendengar perkataannya, mengetahui amalnya di setiap waktu dan di mana pun.

Muraqabah merupakan ubudiyah dengan asma Nya, Ar-Raqib, Al-Hafiz, Al-‘Alim, As-Sami’, dan Al-Basir (Maha Mengawasi, Menjaga, Mengetahui, Mendengar, dan Melihat). Siapa yang bisa memahami asma ini dan beribadah menurut ketentuannya, berarti dia telah sampai pada tingkat muraqabah.

Penyusun kitab Manazil al-Sa’irin, mengatakan, “Muraqabah artinya terus-menerus menghadirkan hati bersama Allah. Salah satu tingkat muraqabah adalah muraqabah Allah terhadap perjalanan kepada Nya secara terus-menerus, memenuhi hati dengan keagungan Nya, mendekat kepada Allah.

Jika hati sudah di isi dengan keagungan Allah, ia akan mengesampingkan pengagungan terhadap selain Nya dan tidak mau berpaling kepadanya. Pengagungan ini tidak akan terlupakan jika hati bersama Allah, disamping juga mendatangkan cinta.

Cinta kepada Allah, mengandung 5 perkara :

  1. Perjalanan kepada Allah
  2. Kelanjutan perjalanan ini
  3. Hati yang bersama Allah
  4. Pengagungan Nya
  5. Berpaling dari selain Nya

Jika sudah ada kedekatan hati dengan Allah, akan menghasilkan kesenangan dan kenikmatan yang tidak bisa diserupakan dengan kesenangan di dunia dan tidak dapat dibandingkan, karena ini merupakan salah satu keadaan dari para penghuni surga.

Kesenangan dan kenikmatan inilah yang membangkitan seseorang untuk terus mengadakan perjalanan kepada Allah, berusaha dan mencari keridhaan Nya. Siapa yang tidak merasakan kesenangan dan kenikmatan ini, atau sebagian darinya, maka hendaklah ia mencurigai iman dan amalnya, karena iman itu mempunyai kemanisan.

Siapa yang tidak dapat merasakan manisnya iman, hendaklah kembali untuk mencarinya dengan mencari cahaya yang dapat mendatangkannya.

Ibnu’l Qayyim Al-Jauziyyah, Madaarijus As-Salikin Manazilu Iyyaka Na’ budu wa Iyyaaka Nasta’in.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *