Asas Islam adalah Tauhid dan Menjauhkan Syirik – Macam-macam Tauhid

Setiap muslim wajib mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Seorang muslim juga perlu mengetahui pengertian tauhid, makna syahadat, rukun syahadat dan syarat-syaratnya supaya ia benar-benar memahami tauhid.

Tauhid menurut bahasa (etimologi) diambil dari kata wahhada, yuwahhidu, tauhiidan artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut ilmu syar’i (terminologi), tauhid berarti mengesakan Allah terhadap sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik tauhid Uluhiyyah, tauhid Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya. Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allah saja.

Macam-macam Tauhid

  1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah berarti mentahuidkan segala apa yang dikerjakan Allah, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu. (QS. Al-A’raaf: 54; QS. Al-Faathir: 13)

Kaum musyrikin pun mengakui sifat Rububiyyah Allah. (QS. Yunus: 31-32; QS. Az-Zukhruuf: 9).

Sebagian ulama Salaf berkata, “Jika kalian bertanya kepada mereka (kaum musyrikin), ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka pasti menjawab, ‘Allah’. Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir IV/418).

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’aanah (minta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (harus ikhlas).

Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya (apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat) (QS. An-Nisaa: 48, 116).

Pengambilan sesembahan-sesembahan yang dilakukan oleh orang musyrik dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti :

  1. Sesembahan-sesembahan yang diambil tidak mempunyai keistimewaan sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat memberi manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghiidupkan dan mematikan. (QS. Al-Furqaan : 3).
  2. Sebenarnya orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, dan yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Dalam hal ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyyah. (QS. Al-Baqarah : 21-22).

3. Tauhid Asma’ wa Shifat Allah

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu berupa Nama-nama maupun Sifat-sifat Allah dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d dan Sufyan Ats-Tsauri tentang berita yang datang mengenai Sifat-sifat Allah, mereka semua menjawab :

“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat – sifat Allah) seperti datangnya dan janganlah engkau persoalkan (jangan engkau persoalkan)”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitaabus Sunnah no.313.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah adalah mengimani Tauhid al-Asma’ wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya dan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah untuk diri-Nya, tanpa tahrif dan ta’thil, serta tanpa takyiif dan tamtsiil.

Tahrif atau ta’wil yaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.

Ta’thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-sifat Allah atau mengingkari seluruh atau sebagian Sifat-sifat Allah.

Takyiif adalah menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau mempertanyakan :”Bagaimana Sifat Allah itu?” Atau menentukan hakikat dari Sifat Allah, seperti menanyakan “Bagaimana Allah bersemayam?”.

Tamtsiil sama dengan tasybiih, yaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah dengan sifat mahluk-Nya.

Diringkas dari buku “Prinsip Dasar Islam menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *