Kehidupan yang Sebenarnya

Kehidupan yang Sebenarnya

Kebanyakan orang berkeyakinan bahwa hidup itu identik dengan menikmati kesenangan dan kelezatan duniawi. Mereka pada hakikatnya adalah orang-orang yang telah putus asa untuk menggapai kedudukan dan derajat yang lebih mulia dan lebih utama.

Hidup hakikatnya adalah mengabdikan diri dengan beribadah kepada Rabb Yang Maha Hidup dan tidak akan mati. 

Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr : 99).

Hidup adalah untuk menegakkan syariat Allah di atas muka bumi tanpa kesewenang-wenangan, kezhaliman dan pengrusakan.

Hal-hal yang Terpenting dalam Kehidupan

Tauhid

Karena hal inilah Allah mengutus para nabi dan menurunkan kitab-kitab suci. Dan karena ini pula Allah menciptakan jin dan manusia.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat : 56).

Manusia tidaklah diciptakan sia-sia dan dibiarkan begitu saja. Manusia hidup bukan hanya untuk makan dan minum serta tugas duniawi lainya. Akan tetapi mereka diciptakan untuk menyembah Rabb mereka dan mengagungkan-Nya. Untuk berpegang teguh dengan perintah dan laranban-Nya. Agar para hamba menghadapkan wajah mereka kepada-Nya dan membimbing mereka untuk menunaikan hak-Nya.

Sesungguhnya yang paling agung dari isi Al-Qur’an adalah penjelasan tentang hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan penjelasan tentang perkara-perkara yang bertolak belakang dengan itu. Hak Allah ialah memurnikan ibadan hanya untuk-Nya semata dan mengesakan-Nya dalam ibadah. Sedangkan penjelasan tentang perkara yang bertolak belakang dengannya, yaitu syirik akbar, sebuah dosa yang yak terampuni.

Amal Shalih

“Katakanlah : “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku : “Bahwa sesungguhnya Ilah kamu itu adalah Ilah Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-Nya maka hendaklah ia mengerjakan amal yahg shalih dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya”.(QS, Al-Kahfi : 110).

Setiap amal shalih harus memenuhi 2 syarat  :

  1. Tujuan amal itu adalah mencari ridha Allah dan pahala di akhirat, harus ikhlas semata-mata karena Allah.
  2. Amal itu harus sesuai dengan apa yang disyariatkan Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Barangsiapa yang Allah beri karunia dengan dua perkara ini, yakni ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti sunnah), maka perjalanannya menuju Allah menghabiskan seluruh waktunya secara mudah. Sehingga amalnya yang sedikit menjadi banyak. 

“Supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya”. (QS. A-Mulk : 2).

Al Fudheil bin Iyadh berkata :

“Yaitu menguji siapakah amalnya yang paing ikhlas dan paling benar.”

“Sesungguhnya sebuah amal apabila ikhlas namun tidak benar, tidaklah diterima. Apabila benar namun tidak ikhlas, juga tidak diterima. Hingga amal itu benar-benar ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amal yang dilakukan karena Allah semata. Dan amal yang benar adalah ama yang diakukan menurut tuntunan sunnah.”

Menjadi Profesional (Mengerjakan sesuatu dengan baik)

Ali bin Abi Thalib berkata :

“Seorang manusia dinilai dari apa yang bisa dikerjakannya dengan baik.”

Manusia dalam pandangan manusia yang lain dinilai dari apa yang bisa dikerjakannya dengan baik dan bagus (profesional). Apabila ia bisa mengerjakannya dengan sukses, maka ia dipandang berhasil dan beruntung. Jika tidak, maka dipandang gagal.

Berdasarkan hal itu, tidak menjadi keharusan seorang manusia  membuang semua tabiat yang telah Allah gariskan atas dirinya. Karena setiap insan akan dimudahkan kepada apa yang ia telah diciptakan untuknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *