Mengapa Kita Perlu Mengaji Kitab Ighatsatul Lahfan ?

Manajemen Kalbu

Disarikan dari Kata Pengantar Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqi dalam Kitab Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan (Manajemen Kalbu : Melumpuhkan Senjata Syetan, karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah)

Kitab ini dipersembahkan untuk kaum Muslimin yang sudah sangat membutuhkan isi dari kitab ini, dimana gelombang fitnah sudah sangat merusak hati dan kehidupan kaum Muslimin. Fitnah ini, sudah sampai pada tahap memutar balikkan kebenaran dan kebatilan. Penyebab inti dari kondisi ini adalah telah terjadi hubungan yang sangat kuat antara hati manusia dengan syetan dan di lain sisi telah menjauhnya hubungan hati manusia dengan Allah.

Fitnah yang dilancarkan syetan ini, terus membentang sehingga syetan mampu menjaring semua hati manusia, kecuali orang-orang yang dikehendaki Allah, dan mereka itu sangat jarang dan sedikit sekali. Yaitu, orang-orang yang syetan tak berdaya menguasai mereka, dari golongan hamba-hambaNya yang ikhlas.

Wahai yang mengharapkan kebahagiaan buat dirinya, baik di dunia maupun di akhirat, ketahuilah, bahwasanya tidak ada jalan lain bagimu untuk hal itu kecuali engkau harus kembali sebagaimana keadaan generasi pertama, baik dalam ilmu, amal, kepercayaan, akhlak dan kepribadian.

Karena itu, bersegeralah menuju mata air yang berada di hadapanmu, Al-Quran dan As-Sunnah yang murni.

Dan kitab ini, Ighatsatul Lahfan, adalah sebaik-baik penolongmu, yang membinarkan cahaya hidayah untukmu, yang menguakkan tempat masuknya syetan, dan memberikan solusi bagaimana hati kita lepas/bebas dari belenggu syetan.

Kitab Ighatsatul Lahfan ini adalah karya terbaik Ibnu Qayyim, buah penanya yang istimewa dan hasil dari sumber hatinya yang jernih, suci dan cerdas.

Diketik, dipagi hari yang sejuk, di rumah yang seperti surga, ditemani kopi dan kue, dan my twins.

Kebaikan

Kebaikan

Sahabatku, seorang yang mulia adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Karena, akhalak merupakan tolak ukur keimanan. Semakin beriman, maka akhlak akan semakin baik. Bahkan Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم menyebutkan akhlak mulia sebagai kebaikan. Perhatikanlah hadits berikut ini:

الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ, وَالْاِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ اَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ                                           

“Kebaikan adalah akhlak yang baik, adapun dosa adalah sesuatu yang meragukan dalam dadamu dan engkau merasa tidak suka diketahui oleh manusia.” (HR.Muslim).

Hadits diatas menjelaskan tentang pengertian kebaikan dalam islam. Kebaikan adalah akhlak yang baik. Yaitu segala hal yang diperintahkan oleh syariat islam, baik terkait dengan amalan  lahir maupun amalan batin. Seperti beriman kepada Allah, para malaikatnya, kitab-kitabnya, para rasulnya. Begitu pula dengan ketaatan lahiriah seperti shalat, zakat, silaturahmi, dan lain sebagainya.

Hamba yang baik adalah seorang yang berhias dengan akhlak yang mulia. Maka terkandung dalam hadits ini agar kita memiliki akhlak yang mulia. Itulah kebaikan menurut pandangan islam yang dapat menyampaikan pemiliknya kepada surga.

Selanjutnya Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم menjelaskan apa itu dosa. Dosa adalah sesuatu yang mengganjal dan meragukan dalam dada. Begitulah perasaan seorang muslim ketika terjerumus dalam perbuatan dosa. Dia pun merasa gelisah, sedih, dan gundah gulana. Di samping itu, dia juga tidak suka apabila ada orang lain yang mengetahuinya.

Maka hendaknya kita menjauhi hal-hal yang meragukan dalam hati. Sebagaimana perintah Nabi صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم untuk meninggalkan hal-hal yang membuat ragu. Sehingga pada perkara yang tidak tahu hukumnya , mestinya kita bertanya terlebih dahulu kepada orang berilmu  sebelum melakukannya. Karena bisa jadi perkara tersebut ternyata adalah perkara dosa.

Hal ini sangat berbeda dengan kebaikan. Tentu kita merasa senang telah  melakukan kebaikan dan tidak merasa ada yang mengganjal di dalam hati. Itulah tanda seorang mukmin, senang dengan kebaikan yang dilakukan dan sedih dengan dosa  yang dia kerjakan. Wallahu A’alam

sumber: majalah azka edisi 75

Unboss Leader : Servant Leadership

Unboss Leader : Servant Leadership

Memimpin millenial membutuhkan gaya kepemimpinan yang berbeda.
Gayanya harus sesuai dengan karakter mereka yang cepat, tepat dan
bersahabat. Itulah servant leadership. Kepemimpinan yang unboss
atau tidak menonjolkan posisi dan kendali tapi komitmen.

Salah satu keunggulan komparatif bangsa Indonesia yaitu banyaknya
populasi penduduk pada umur produktif. Diperkirakan ada sekitar
65% dari total penduduk. Jika dibuat piramida penduduk maka
bentuknya seperti belah ketupat. Besar di tengah.


Berbeda dengan negara maju seperti Jepang dan negara Eropa seperti
Inggris dan Jerman. Piramida penduduknya berbentuk piramida terbalik.
Lebih banyak jumlah orang tua dibandingkan umur produktif. Akibatnya
negara terbebani dengan biaya jaminan sosial yang tinggi.


Kembali ke Indonesia yang mayoritas penduduknya usia produktif. Itulah
yang disebut dengan bonus demografi. Lebih menariknya lagi
diperkirakan 55% dari usia produktif tersebut adalah generasi millenial
yang lahir setelah tahun 1984.


Generasi millenial memiliki ciri yang khas. Salah satunya yaitu melek
teknologi sehingga dapat bekerja dengan cepat. Lalu mereka juga dapat
dengan mudah mengakses informasi dan ilmu pengetahuan. Banyak
referensi sehingga dapat mengambil keputusan dan tindakan dengan
tepat.


Mereka hidup di era digital dengan akses jaringan internet yang tanpa
batas. Didukung dengan perkembangan media sosial. Maka pola
pergaulannya adalah setara melalui media sosial yang tanpa hirarki. Pola
kerja juga dalam jaringan dan teamwork. Bukan komando dan kontrol
yang ketat dan kaku. Lebih senang dengan pola bersahabat.

Servant leadership atau kepemimpinan yang melayani memiliki ciri utama
yaitu keinginan dari pemimpin untuk membantu bawahannya agar tumbuh
menjadi dirinya yang terbaik. Untuk itu pemimpin harus mampu
mengenali potensi bawahannya secara individual.


Hal ini membutuhkan kemampuan untuk menjadi coach, mentor dan
fasilitator. Dua keterampilan yang harus dimiliki yaitu mampu bertanya
dan mendengarkan dengan baik. Menyimak pandangan dan pendapat
anggota tim sebelum memberikan feedback dan masukan yang pas.
Bahkan mampu menggali solusi dari anggota tim melalui pertanyaan yang
terstruktur dan konstruktif.


Bertanya dan mendengarkan membuat pemimpin menjadi sahabat bagi
anggota timnya. Millenial punya banyak informasi dan pengetahuan.
Pemimpin sebagai sahabat membantu menggunakan pengetahuan
tersebut untuk memecahkan masalah yang dihadapi.


Tentu tidak cukup hanya bersahabat. Agar dapat memimpin dengan baik
perlu juga kecerdasan dan kecepatan. Jika itu dimiliki maka pemimpin
dapat bertindak dengan cepat dan tepat. Itulah servant leadership.


Semoga kita yang menjadi pemimpin di bidang apapun dapat
mentransformasi diri menjadi pemimpin dambaan millenial yang cepat,
tepat dan bersahabat

Ref : UnBoss Leadership, Kalla Group

ON-kan Hidupmu (sebuah ringkasan)

ON-kan Hidupmu (sebuah ringkasan)

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada kesempatan kali ini, saya ingin berbagi tentang sebuah konsep hidup yang insya Allah bermanfaat untuk mendorong kesuksesan kita di kehidupan di dunia dan akhirat. Konsep ini di sampaikan oleh Bapak Jamil Azzaini, CEO Kubik Leadership, dalam sebuah acara seminar bisnis (saya hanya menyimak dari Channel Youtube Saling Sapa).

Menurut Bapak Jamil Azzini, agar hidup kita tidak hanya mengalir, agar hidup kita bisa sukses dan mulia, maka ada 4 hal yang perlu di ON kan :

  1. Vision
  2. Passion
  3. Action
  4. Collaboration.

Vision adalah apa yang nanti akan kita banggakan di hadapan Allah ketika bertemu dengan Nya di surga. Vision adalah apa yang akan kita banggakan di hadapan orang tua kita, keluarga kita dan para sahabat yang kita cintai. Kita masuk surga, adalah karena rahmat Allah, namun amal sholeh adalah salah satu penyebabnya. Vision adalah amal sholeh apa atau bagaimana, yang akan kita banggakan kepada Allah.

Passion adalah apa yang menjadi kelebihan kita, yang kita cintai, yang kita bersemangat untuk melakukannya, yang kita bisa sampai lupa waktu jika melakukannya, yang kita siap untuk tidak dibayar (bahkan), itulah passion.

Action adalah amalan yang harus kita lakukan untuk mencapai vision kita dengan sarana passion kita. Ada 2 kkategori action : Skala prioritas dan Aksi strategis. Skala prioritas adalah dengan melakukan yang wajib dan sunnah, sekali-kali yang mubah, tinggalkan yang makruh dan campakkan yang haram. Aksi strategis meliputi : kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Collaboration adalah perlunya kita berkolaborasi dengan orang lain untuk meraih vision kita. Kita perlu punya mentor, teman-teman yang mendukung passion dan vision kita.

Untuk menyimak ringkasan saya dalam bentuk video presentasi, silahkan di simak melalui link Youtube berikut :

Untuk menyimak presentasi langsung dari Pak Jamil Azzaini, silahkan ke link Youtube berikut :

Untuk mendownload materi presentasi (ringkasan saya), silahkan di link berikut :

https://drive.google.com/file/d/1fALyJBRhvv1jQKTSevby7GNtEgYwXenj/view?usp=sharing

Demikian, semoga bermanfaat.

Proposal Hidup

Proposal Hidup

Tulisan ini adalah merupakan ringkasan dari buku yang berjudul “Tuhan, Inilah Proposal Hidupku” karya Jamil Azzaini.

Proposal hidup perlu kita buat, agar hidup kita mempunyai arah yang jelas, tidak sekedar mengalir. Jika hidup kita mengalir, maka hidup kita akan sibuk dengan sesuatu yang tidak mengantarkan kita pada kesuksesan.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan kita lakukan untuk menyusun proposal hidup.

  1. Menyadari bahwa diri kita adalah “mastermind” , kita adalah unik, mempunyai kelebihan yang hanya kita yang punya. Dengan keunikan inilah kita seharusnya bisa optimal dalam hidup.
  2. Pasang prestasi terbaik yang ingin kita capai. Prestasi yang spesifik, terukur, target jangka waktu yang jelas dan meliputi unsur 4 ta : harta, tahta, kata, cinta. Dan jangan lupa, setelah kita mencapai prestasi itu, pasang juga target untuk memberi manfaat kepada sesama.
  3. Jadilah expert dibidang yang kita kuasai. Untuk menemukan keahlian kita, kita bisa mulai dengan meng-list up semua yang kita kuasai, yang kita cintai, yang menghasilkan uang. Setelah itu, pilih satu yang akan kita kembangkan menjadi keahlian kita. Curahkan waktu khusus untuk mengembangkan keahlian kita. Cari guru untuk pengembangan keahlian, guru spiritual (agama) dan guru kehidupan.
  4. Sempurnakan hidup, dengan cara buat target 90 hari. Target itu meliputi karya, uang, kesehatan, keluarga, spiritual (agama), sosial. Kembangkan komitmen sikap dan perilaku yang positif, produktif dan kontributif.
  5. Sempurnakan lingkungan (untuk mendukung proposal Anda), mulai dari rumah, ceritakan proposal Anda pada setiap kesempatan, berdoa, mensyukuri keberhasilan pada setiap langkahnya.

Asas Islam adalah Tauhid dan Menjauhkan Syirik – Macam-macam Tauhid

Asas Islam adalah Tauhid dan Menjauhkan Syirik – Macam-macam Tauhid

Setiap muslim wajib mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk kesyirikan. Seorang muslim juga perlu mengetahui pengertian tauhid, makna syahadat, rukun syahadat dan syarat-syaratnya supaya ia benar-benar memahami tauhid.

Tauhid menurut bahasa (etimologi) diambil dari kata wahhada, yuwahhidu, tauhiidan artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan menurut ilmu syar’i (terminologi), tauhid berarti mengesakan Allah terhadap sesuatu yang khusus bagi-Nya, baik tauhid Uluhiyyah, tauhid Rububiyyah, maupun Asma’ dan Sifat-Nya. Tauhid berarti beribadah hanya kepada Allah saja.

Macam-macam Tauhid

  1. Tauhid Rububiyyah

Tauhid Rububiyyah berarti mentahuidkan segala apa yang dikerjakan Allah, baik mencipta, memberi rizki, menghidupkan dan mematikan. Allah adalah Raja, Penguasa dan Rabb yang mengatur segala sesuatu. (QS. Al-A’raaf: 54; QS. Al-Faathir: 13)

Kaum musyrikin pun mengakui sifat Rububiyyah Allah. (QS. Yunus: 31-32; QS. Az-Zukhruuf: 9).

Sebagian ulama Salaf berkata, “Jika kalian bertanya kepada mereka (kaum musyrikin), ‘Siapa yang menciptakan langit dan bumi?’ Mereka pasti menjawab, ‘Allah’. Walaupun demikian mereka tetap saja menyembah kepada selain Allah.” (Tafsir Ibnu Katsir IV/418).

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah artinya mengesakan Allah melalui segala pekerjaan hamba, yang dengan cara itu mereka bisa mendekatkan diri kepada Allah apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh (penyembelihan), bernadzar, isti’aanah (minta pertolongan), istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta perlindungan) dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun (harus ikhlas).

Allah tidak akan ridha bila dipersekutukan dengan sesuatu apapun. Bila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka pelakunya jatuh kepada Syirkun Akbar (syirik yang besar) dan tidak diampuni dosanya (apabila dia mati dalam keadaan tidak bertaubat) (QS. An-Nisaa: 48, 116).

Pengambilan sesembahan-sesembahan yang dilakukan oleh orang musyrik dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti :

  1. Sesembahan-sesembahan yang diambil tidak mempunyai keistimewaan sedikit pun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat memberi manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak dapat menghiidupkan dan mematikan. (QS. Al-Furqaan : 3).
  2. Sebenarnya orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, dan yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu. Dalam hal ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan), seperti mereka mengesakan Rububiyyah. (QS. Al-Baqarah : 21-22).

3. Tauhid Asma’ wa Shifat Allah

Ahlus Sunnah menetapkan apa-apa yang Allah dan Rasul-Nya telah tetapkan atas diri-Nya, baik itu berupa Nama-nama maupun Sifat-sifat Allah dan mensucikan-Nya dari segala aib dan kekurangan, sebagaimana hal tersebut telah disucikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Al-Walid bin Muslim pernah bertanya kepada Imam Malik bin Anas, Al-Auza’i, Al-Laits bin Sa’d dan Sufyan Ats-Tsauri tentang berita yang datang mengenai Sifat-sifat Allah, mereka semua menjawab :

“Perlakukanlah (ayat-ayat tentang Sifat – sifat Allah) seperti datangnya dan janganlah engkau persoalkan (jangan engkau persoalkan)”

Diriwayatkan oleh Imam Abu Bakar al-Khallal dalam Kitaabus Sunnah no.313.

Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Manhaj Salaf dan para Imam Ahlus Sunnah adalah mengimani Tauhid al-Asma’ wash Shifat dengan menetapkan apa-apa yang telah Allah tetapkan atas diri-Nya dan apa-apa yang telah ditetapkan oleh Rasulullah untuk diri-Nya, tanpa tahrif dan ta’thil, serta tanpa takyiif dan tamtsiil.

Tahrif atau ta’wil yaitu merubah lafazh Nama dan Sifat, atau merubah maknanya, atau menyelewengkan dari makna yang sebenarnya.

Ta’thil yaitu menghilangkan dan menafikan Sifat-sifat Allah atau mengingkari seluruh atau sebagian Sifat-sifat Allah.

Takyiif adalah menerangkan keadaan yang ada padanya sifat atau mempertanyakan :”Bagaimana Sifat Allah itu?” Atau menentukan hakikat dari Sifat Allah, seperti menanyakan “Bagaimana Allah bersemayam?”.

Tamtsiil sama dengan tasybiih, yaitu mempersamakan atau menyerupakan Sifat Allah dengan sifat mahluk-Nya.

Diringkas dari buku “Prinsip Dasar Islam menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih” karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas.

Sayyidul Istighfar

Sayyidul Istighfar

اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ، لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ، وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ لَكَ بِذَنْبِيْ، فَاغْفِرْ لِيْ، فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Allaahumma anta robbii, laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii, wa anaa ‘abduka, wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’dika mas-tatho’tu, a’uudzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u laka bi-dzanbii, faghfir lii, fa-innahu laa yagh-firudz-dzunuuba illaa anta.

Ya Allah, Engkau adalah Tuhanku, tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Engkau, Engkaulah yang menciptakan aku. Aku adalah hambaMu. Aku akan setia pada perjanjianku denganMu semampuku. Aku berlindung kepadaMu dari kejelekan yang kuperbuat. Aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku, oleh karena itu, ampunilah aku. Sesungguhnya tiada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.

HR. Al Bukhari no. 5522, 6306 dan 6323, at-Tirmidzi no. 3393, an-Nasa’i no. 5522 dan lain-lain.

Keutamaan:
Dari Syaddad bin Aus radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Sayyidul Istighfar adalah bacaan: (doa di atas).” Kemudian beliau menyebutkan keutamaannya, “Barangsiapa yang membaca doa ini dengan penuh keyakinan di sore hari, kemudian dia mati pada malam harinya (sebelum pagi) maka dia termasuk ahli surga. Dan barangsiapa yang membacanya dengan penuh keyakinan di pagi hari, kemudian dia mati pada siang harinya (sebelum sore) maka dia termasuk ahli surga.”

Keterangan:
Dinamakan Sayyidul Istighfar, karena bacaan istighfar di atas adalah lafal istighfar yang paling mulia dibandingkan lafal istighfar lainnya. Dalam lafal istighfar ini, terdapat 8 aspek yang menjadikan istighfar ini memiliki keutamaan yang besar:

  1. Dimulai dengan pujian kepada Allah.
  2. Adanya pengakuan bahwa dirinya adalah hamba Allah, makhluk Allah yang berusaha menghambakan dirinya kepada Allah.
  3. Mengimani adanya janji Allah, sehingga sang hamba sangat berpijak pada ikrarnya untuk mendapatkan janji Tuhannya.
  4. Pengakuan akan kekurangan dirinya, dengan sekaligus memohon perlindungan kepada Tuhannya dari keburukan dirinya.
  5. Pengakuan terhadap banyaknya nikmat yang telah Allah berikan kepada dirinya, yang ini mewakili rasa syukur.
  6. Pengakuan terhadap banyaknya dosa dan kelancangannya, yang ini merupakan bentuk taubatnya.
  7. Diakhiri dengan permohonan ampunan yang setulusnya kepada Allah.
  8. Dengan keyakinan, tidak ada Dzat yang mampu mengampuni dosa-dosa hamba kecuali Allah, Sang Maha Kasih Sayang.

(Fiqh al-Adiyah, 3/15).

Sumber: Hisnul Muslim dan http://www.facebook.com/doa.dzikir.shahih.harian/posts/155977764502290